Otomatisasi Proses GIS

Kata “otomatis” terdengar
cukup merdu di telinga. Kata
tersebut seperti sebuah obat
instan dan manjur untuk
semua hal. Demikian halnya
juga dalam aplikasi Sistem
Informasi Geografis dan
disiplin sejenis. Otomatis
berarti cepat, tepat, dan akurat.
Setidaknya itu lah prespektif
saya tentang otomatisasi dalam
proses-proses GIS beberapa
waktu yang lalu. Digitasi peta
adalah salah satu contoh proses
yang paling banyak (ingin)
dilakukan secara otomatis.
Pilih mana antara digitasi
manual garis-garis kontur
berhari-hari sampai tangan
sakit atau cuma klik dan duduk
manis menunggu komputer
melakukan digitas secara
otomatis?
Menurut pengamatan saya,
tingkat preferensi otomatisasi
dalam proses GIS sudah sangat
tinggi. Dalam pemilihan
alternatif-alternatif proses/
tahapan yang akan dilakukan,
otomatisasi selalu menjadi
pilihan utama dan prioritas.
Terlebih ( maaf) rekan-rekan
yang baru mengenal GIS
cenderung melihat bahwa
proses otomatis itu sesuatu
yang cool dan mutlak benar.
Otomatisasi bisa dilakukan jika
beberapa syarat sudah
dipenuhi sebagai berikut.
1. Waktu yang diperlukan
untuk persiapan dan
supervisi lebih singkat
daripada proses manual .
Tidak ada proses yang bisa
dilakukan full otomatis. Pada
proses interpretasi citra,
sebagai contoh, pasti harus ada
tahapan persiapan dan
supervisi yang dilakukan oleh
manusia secara manual.
Apakah hasil proses otomatis
sudah sesuai “standard”? Tidak
jarang kita harus membetulkan
hasil proses otomatis yang
janggal. Proses persiapan dan
supervisi ini tentu memakan
waktu cukup lama dan harus
dipertimbangkan sebagai faktor
untuk memilih otomatis vs
manual. Jika ada tugas digitasi
sebuah polygon berbentuk
persegi panjang, maka saya
lebih memilih digitasi manual
karena tentu waktu yang
diperlukan lebih cepat
dibandingkan dengan proses
digitasi secara otomatis. Jadi di
sini perlu dilihat bahwa proses
otomatis tidak selalu berarti
lebih cepat daripada proses
manual.
2. Pengetahuan yang kita
miliki terhadap area studi
sangat minim.
Pengetahun kita sebagai
operator/analis terhadap areal
studi adalah sesuatu yang
sangat – dan bahkan mungkin
paling – berharga dalam
banyak proses GIS. Artificial
Intelligence yang dicoba
dibangun oleh computer
terhadap area studi tidak
memiliki ini. Apakah kita akan
menyia-nyiakan pengetahuan
kita tersebut? Selain itu, faktor
2 ini cukup berkaitan dengan
faktor 1 tersebut di atas. Jika
kita sedang melakukan
interpretasi citra di daerah
yang tidak kita kenal, maka
supervisi terhadap hasil digitasi
otomatis tidak akan lama. Lain
hal jika kita mengetahui
banyak tentang area studi.
Semakin banyak kita tahu
tentang area studi, maka
semakin banyak juga bagian-
bagian hasil proses otomatis
yang diperbaiki.
3. Proses otomatis sudah baku
dan banyak digunakan oleh
para pakar .
Faktor ini adalah faktor karet
karena defisini pakar sangat
kabur. Banyak orang mengaku
pakar tetapi sesungguhnya dia
hanya tahu banyak hal tetapi
sedikit-sedikit, dan banyak juga
yang tahu sedikit hal tapi
banyak yang tidak mau
terkspose sebagai pakar. Yang
penting esensi dari point ini
adalah kita memiliki sandaran
atau pijakan atas proses
otomatisasi yang kita lakukan.
Kita harus bersiap diri dengan
referensi jika suatu saat ada
yang mempertanyakan proses
otomatisasi yang kita lakukan.
4. Otomatisasi dilakukan
terhadap obyek yang tidak
menuntuk tingkat akurasi
yang tinggi, tidak krusial, dan
minim detail.
Akankah saya melakukan
interpretasi otomatis citra
landsat untuk suatu
pegunungan? Jawabannya
mungkin ya karena areal
tersebut kira-kira tidak
menuntuk akurasi yang tinggi,
tidak krusial atau juga minim
detail. Lain hal jika kita
diminta melakukan interpretasi
citra Ikonos resolusi 1m untuk
membuat persil lahan. Pada
kasus yang kedua saya
kemungkinan besar memilih
melakukan interpretasi
manual.
5. Dan lain-lain (silakan
tambahkan sendiri di
komentar)
Otomatisasi digitasi peta
rupabumi, interpretasi citra
dan proses-proses GIS lainnya
boleh saja dilakukan tetapi
hendaknya menjadi alternatif
kedua setelah jika alternatif
pertama, yakni melakukan
proses secara manual, tidak
bisa memenuhi deadline yang
telah ditentukan atau kita
merasa ragu (karena
pengetahuan tentang obyek
sedikit) jika dilakukan secara
manual. Saya lebih
menyarankan untuk memilih
proses secara manual sebagai
prioritas utama dalam memilih
alternatif proses GIS.

Source www.raharjo.org/rsgis/otomatisasi-proses-gis.html

Belum ada Komentar untuk "Otomatisasi Proses GIS"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel